Wednesday, June 24, 2020

author photo

Daftar isi [Tampil]
Saat seorang Ulama berdakwah dengan metode ceramah, mungkin sudah biasa. Namun, apa jadinya jika Ulama berdakwah melalui metode sastra? Tentu akan sangat unik ya. Beliau adalah Sunan Bonang, salah satu Wali Songo yang berasal dari Tuban ini telah mensyiarkan agama Islam di Indonesia dengan sastra. Berikut sekilas kisah dari Sunan Bonang yang perlu Anda ketahui.

Metode Dakwah

Menurut beberapa sumber, sebutan “Bonang” berasal dari nama sebuah alat musik tradisional. Alat vg musik tersebut sering digunakan oleh Raden Makdum dalam berdakwah. Ilmu yang sering dijadikan sebagai materi dakwah yaitu berkaitan dengan ilmu fiqh, tasawuf, dan ushuludin.

Tidak hanya itu, Sunan Bonang juga menguasai ilmu umum, misalnya arsitektur, seni, dan sastra. Maka dari itu, Sunan Bonang tidak kehabisan akal saat berdakwah. Beragam metode yang beliau gunakan di antaranya:

  1. Mendirikan Pesantren
Sunan Bonang mendirikan sebuah pesantren di wilayah Tuban. Hal ini beliau lakukan karena ingin meneruskan jejak ayahnya. Dengan adanya pesantren, maka beliau bisa mendidik para santri dengan ilmu agama. Harapan utamanya tentu saja agar para santri bisa ikut menyebarkan agama Islam di Indonesia.

  1. Menggunakan Media Karya Sastra
Selain di pesantren, Sunan Bonang juga aktif berdakwah dengan berkeliling ke beberapa daerah. Uniknya, beliau mengemas materi dakwah dalam bentuk sastra. Beberapa karya sastra yang beliau gunakan adalah carangan pewayangan dan tembang tamsil (suluk). Contoh cerita yang disampaikan yaitu Petruk Dadi Ratu, Mustakaweni, Pandu Pragola, dan sebagainya.

  1. Menggunakan Alat Musik
Salah satu media yang sering digunakan Sunan Bonang adalah alat musik tradisional, yaitu Bonang. Dan benar saja, alat ini mampu menarik perhatian masyarakat pada masa itu. Setelah itu, barulah Sunan Bonang menyisipkan ajaran agama Islam di dalam tembang-tembang yang disampaikan. Salah satu tembang Sunan Bonang yang paling populer adalah “tombo ati” (obat hati).

  1. Menulis Kitab
Sebagai Ulama besar, Sunan Bonang juga tidak lupa untuk menulis sebuah kitab. Kitab yang telah beliau tulis yaitu berisi tentang ilmu tasawuf dengan judul Tanbihul Ghofilin. Kitab ini menjelaskan secara detail ilmu tasawuf hingga 234 halaman. Garis besar ajaran tasawuf adalah, manusia diharuskan menjalani kehidupan ini berdasarkan keimanan penuh pada Allah.

Keturunan

Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hairah, kemudian dikaruniai 1 anak putri, dan 2 anak putra. Satu diantaranya adalah seorang putri bernama Dewi Ruhlid, sedangkan 2 lainnya adalah putra. Nama kedua putra tersebut yaitu Jayengrono dan Jayeng Katon.

Peninggalan

Selama hidupnya, Sunan Bonang telah memberikan banyak ilmu agama bagi masyarakat, khususnya masyarakat Jawa. Tidak hanya berdakwah, Sunan Bonang juga telah memberikan peninggalan yang tentunya masih memiliki manfaat hingga sekarang meski beliau sudah wafat.

  1. Masjid Astana Bonang
Masjid yang didirikan di daerah Bonang-Rembang ini memiliki arsitektur yang cukup megah. Masjid ini menjadi tempat ibadah bagi umat muslim di sana. Selain itu, Sunan Bonang sering menyendiri di dalam Masjid ini. Hingga beliau wafat, makamnya pun berlokasi di dekat Masjid Astana Bonang.

  1. Makam Sunan Bonang
Cungkup Makam Sunan Bonang
Cungkup Makam Sunan Bonang

Makam Sunan Bonang terletak di bagian utara dari Masjid Astana Bonang. Hingga saat ini makam beliau masih terus ramai dikunjungi oleh para peziarah. Biasanya para peziarah membacakan doa-doa dzikir seperti tahlil, surat Yasin, surat Al Ikhlas, hingga bacaan sholawat.

  1. Pendopo
Salah satu tempat yang menjadi peninggalan Sunan Bonang adalah pendopo. Pendopo ini berdiri di dekat lokasi makam dan Masjid. Pada masa beliau masih hidup, pendopo ini sering digunakan sebagai tempat berdakwah atau berdiskusi. Namun siapa sangka, ternyata pendopo ini tidak terbuat dari kayu, melainkan tulang ikan.

  1. Benda Antik
Selain bangunan, Sunan Bonang juga mewariskan beberapa benda antik. Benda tersebut diantaranya tempayan, peti batu, pipisan, dan yoni. Semua benda tersebut sering dipakai oleh Sunan Bonang selama berdakwah di tanah Jawa.

  1. Tempat Sujud
Salah satu lokasi yang menjadi peninggalan paling bersejarah adalah tempat sujud Sunan Bonang. Namun sayangnya tempat ini berada di atas bukit wilayah Lasem, tepatnya di Bukit Watu Layar. Sunan Bonang sering bersujud atau beribadah di tempat ini. Selain itu, beliau juga sering berdiskusi mengenai ilmu tasawuf dengan ulama-ulama lainnya di tempat ini.

  1. Ilmu Tasawuf
Selain peninggalan yang dapat dilihat secara fisik, peninggalan terakhir yang tidak kalah pentingnya yaitu ilmu tasawuf. Sunan Bonang menuangkan ilmu ini ke dalam beberapa karya. Karya tersebut misalnya Suluk Gentur, Suluk Wujil, Suluk Kaderesan, dan sebagainya.

Silsilah Dengan Sunan Ampel Dan Sunan Drajat

Sunan Bonang adalah putra yang keempat dari Sunan Ampel. Ibunya bernama Candrawati, atau dikenal juga dengan nama Nyai Gede Manila. Nyai Gede Manila merupakan putri dari Bupati Tuban, yaitu Arya Teja. Selain Sunan Bonang, Sunan Ampel juga memiliki putra lainnya yang juga menjadi anggota Wali Songo, yaitu Sunan Drajat alias Raden Syarifuddin.

Tempat Lahir

Masjid Astana Bonang di Tuban Jawa Timur
Masjid Astana Bonang di Tuban Jawa Timur

Sunan Bonang lahir tepat pada tahun 1465 di daerah Bonang, Kabupaten Rembang. Nama yang diperoleh dari kedua orang tuanya adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim. Ayahnya bernama Sunan Ampel alias Bong Swi Hoo atau Raden Rahmat. Sunan Bonang telah wafat pada tahun 1525 Masehi, tepatnya di usia 60 tahun.

Lokasi Dakwah

Sunan Bonang sangat disegani oleh masyarakat karena Beliau sangat menguasai ilmu-ilmu agama.
Beberapa lokasi yang menjadi tempat dakwah Sunan Bonang diantaranya:

  1. Rembang
Sunan Bonang memulai dakwahnya dari wilayah kelahiran beliau, yaitu Kabupaten Rembang. Dari sinilah belau belajar ilmu agama Islam dari ayahnya, yaitu Sunan Ampel.

  1. Samudera Pasai
Kemudian, semakin meluas hingga ke segala wilayah tanah Jawa. Sunan Bonang juga pernah menimba ilmu agama di daerah Samudera Pasai, Aceh. Beliau berguru ilmu agama dari Syekh Awwalul Islam dan beberapa Ulama lainnya.

  1. Kediri
Sunan Bonang pernah berdakwah di wilayah Kediri. Namun sayangnya, dakwah yang beliau lakukan kurang berhasil. Hal ini karena di Kediri ada 2 tokoh yang sangat berpengaruh yaitu Buto Locaya dan Nyai Plencing. Kedua tokoh tersebut menganut ajaran Bhairawa-bhairawi.

  1. Demak
Setelah gagal di tanah Kediri, Sunan Bonang bertolak ke wilayah Demak. Bukan tanpa alasan, beliau bertandang ke Demak karena diundang oleh Raden Patah. Di wilayah Demak, Sunan Bonang memulai dakwahnya sejak beliau dipercaya menjadi imam besar di Masjid Agung Demak.

  1. Lasem
Setelah tugasnya selesai di Demak, Sunan Bonang kembali berkelana menuju wilayah Lasem, Jawa Tengah. Di sana merupakan tempat tinggal kakaknya, yaitu Nyai Gede Maloka. Nyai Gede Maloka memerintahkan Sunan Bonang untuk tinggal sekaligus merawat makam dari neneknya yang bernama Putri Bi Nang Ti. Saat itulah beliau juga berdakwah untuk masyarakat Lasem.
Lokasi ziarah makam Sunan Bonang
Lokasi ziarah makam Sunan Bonang 

Kejayaan agama Islam saat ini tidak lepas dari peran para Wali Songo, salah satunya yaitu Sunan Bonang. Dari merekalah, masyarakat Indonesia mampu memahami agama Islam dengan kearifan lokal yang ada. Pada dasarnya, agama dan budaya adalah sebuah kesatuan yang akan selalu berkaitan.

Next article Next Post
Previous article Previous Post